Mempertanyakan Pembangunan Kota Magelang
“Trotoar Pecinan kok dibongkari meh digawe opo tho? Ketoke nembe rong taun kok wis dibubrah meneh padahal isih apik pavinge. Opo ora maneman danane ???”
Sekelumit pertanyaan dan keheranan yang akhir-akhir ini melanda masyarakat Kota Magelang yang menyaksikan banyaknya pembangunan fisik yang terjadi di kotanya. Ya begitulah, mungkin Pihak Penguasa masih belajar pada buku PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) edisi pertama yang belum sempat diperbarui, dimana dinyatakan di sana bahwa masyarakat adalah obyek pembangunan. Padahal di era facebook dan twitter ini masyarakat tidak lagi hanya sebatas sebagai obyek tetapi juga sebagai subyek alias pelaku pembangunan. Mereka mempunyai hak untuk menentukan arah pembangunan daerahnya dan memilih pembangunan seperti apa yang pas untuk mereka.
Wajar, bagi Anda (masyarakat Kota Magelang) maupun saya untuk mengajukan pertanyaan seperti di atas. “Akan dijadikan seperti apakah Kotaku?” “Ada proyek pembangunan apakah di Kotaku?” Namun dengan sangat menyesal saya sampaikan bahwa sampai detik ini, sampai saya menulis postingan ini konsep tersebut (mungkin) cukup pihak penguasa saja yang tahu dan masyarakatnya emang gue pikirin. Benar, kami mendapat ‘sedikit’ info dari media cetak tapi kami rasa info yang disampaikan tidak utuh. Hanya katanya dan minim sekali informasi yang bisa kami dapatkan. Mungkin inilah dosa dan keburukan birokrasi masa lalu yang masih diteruskan sampai dengan masa sekarang, minim sosialisasi, minim publikasi seolah-olah apa yang mereka lakukan hanya untuk menghabiskan anggaran tahun ini untuk selanjutnya mengajukan anggaran baru ditahun berikutnya. Dan mungkin bagi mereka, masyarakat ibarat paranormal yang bisa tahu sesuatu tanpa harus diberi tahu.
Suatu beban dan suatu hal yang membuat tidak enak bagi kami selaku bagian dari pemerintahan saat ada masyarakat yang bertanya soal pembangunan yang tengah dilakukan di kota ini. Kami memang tidak tahu dengan jelas mau dibawa kemana kota ini, dan bukannya kami tidak mau tahu serta tidak mau mencari tahu tetapi memang sama dengan yang masyarakat alami, tak jarang kami malah mendapat informasi dari media cetak maupun omong-omong para pejabat yang tak sengaja kami dengar sambil lalu. Untuk mencari tahu-pun tidak mudah, tak jarang beberapa pihak saling lempar tanggung jawab satu sama lain.
Kami senang apabila pembangunan ini nantinya akan semakin memperindah, mempercantik dan membuat wajah Kota Magelang semakin menarik. Kami senang saat banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi dan mendirikan usahanya di kota ini. Tapi di satu sisi kami juga sering mempertanyakan kebijakan Pihak Penguasa yang mungkin belum memperhatikan prioritas pembangunan karena lebih banyak membangun fisik kota daripada mental masyarakatnya, yang terlalu terbuka dan menerima semua investasi yang bagi kami kurang berpihak terhadap kesejahteraan masyarakat bawah. Kami benar-benar takut akan masa depan kota ini. Kami takut kota ini akan kehilangan ruh yang selama ini masih melekat kuat dan membuat putra daerah yang merantau maupun siapa saja yang pernah mampir ke kota ini senantiasa kangen dan ingin kembali lagi ke kota ini.
Satu contoh yang mungkin sudah basi, sering dibahas, bikin eneg namun juga lama kelamaan mulai menjadi suatu ‘masalah’ yang tidak dirasa masalah adalah tentang Pasar Rejowinangun. Memang saat ini sedang dalam proses pembangunan kembali, tapi kok konon katanya harga los maupun kios melesat jauh sampai sulit terjangkau oleh pedagang lama yang menjadi korban kebakaran pasar ini pada tahun 2008. Selain menunggu terlalu lama, bertahan menempati pasar penampungan yang kondisinya kurang layak, berulangkali berembug penentuan desain, ukuran dan harga los serta kios para pedagang juga harus maklum kalo pendapatan mereka akan semakin berkurang karena pasar semakin sepi.
Contoh yang lain, berdirinya Superindo di tengah-tengah perkampungan warga, di sekitar toko kelontong yang bisa dibilang cukup ramai tiap harinya, di pinggir jalan yang bisa dibilang tidak terlalu luas, apakah sudah benar-benar dipikirkan, dikaji dan dipertimbangkan soal multiplier effect yang ditimbulkan? Di saat kota dan daerah lain say No dan menolak dengan tegas pembangunan pasar modern di kotanya mengapa di kota ini malah seakan-akan membuka pintu lebar-lebar? Memang Superindo akan menyerap tenaga kerja tapi jika kita lihat lagi, kebanyakan hanyalah menjadi pramuniaga, kasir, security, tukang parkir dan tenaga front office lainnya. Tetap saja, keuntungan terbesar akan diraih oleh investor. Apa kabar dengan warung-warung kelontong di sekitar situ? Di saat pedagang masih menjerit soal harga los dan kios dan sabar menunggu pembangunan Rejowinangun usai, para pelanggan setia mereka mulai diajak untuk beralih ke pasar modern yang mungkin dari sisi harga lebih mahal tapi dari sisi kenyamanan akan lebih nyaman.
Cukuplah Kabupaten Magelang yang membangun Mall, Kota Magelang tidak usah iri maupun ingin ikut-ikutan latah membangun mall dan pasar modern di daerah yang luasnya cuma seuprit ini. Di kota ini banyak UMKM maupun usaha-usaha rumahan yang masih dipandang sebelah mata padahal jika kita tahu omsetnya malah akan membelalakkan mata kita. Berikanlah mereka ‘perhatian’ dan tempat yang layak di kota ini. Hargai jerih payah mereka, jatuh bangunnya mereka dan kemandirian mereka dengan memberikan suatu ‘perhatian’ yang memang layak mereka dapatkan sebagai bagian dari masyarakat kota ini. Berdayakanlah usaha kecil yang rodanya adalah masyarakat itu sendiri, bukan malah memberdayakan masyarakat untuk mempertebal dompet orang lain yang sudah tebal.





wah pemikirane visoner je, cocok untuk diusung jadi pak wali ki!
pak Walijo po pak Walimin mas? hehe…
Hoo yo mas, alun-alun yo dibangun, janjane ki ana pa tha? Paling walikota rek nggolek balik modal
Agus Mulyadi´s last blog ..Alhamdulillah, Jadi pemenang kontes review Kliksaya
yg pasti ada anggaran alias uang mas, kalo ndak ada anggaran kan ndak bisa mbangun macem2. wah, kalo balik modal atw ndaknya sy ndak tau je. ndak pinter itung2an sayanya
sepertinya akan terjadi pembangunan infrastruktur besar-besaran ini. Semoga saja arahnya jelas.
amien bro
Membangun Kota dengan kecerdasan akal budi….itu kuncinya sodara sodara..
Saya jadi bertanya tanya..dengan melihat bekas peninggalan Belanda dimana mereka merencanakan pembangunan wilayah dengan sangat sangat sempurna sedang kita tidak bisa merawat dan mempertahankan hal hal yang baik..bahkan malah merusak dan merubah fungsinya..apa memang bangsa ini kurang lama dijajah yaaa…kok tidak bertambah cerdas….??? hehehe…
Sudah lama ngga pulang ke magelang karena studi saya di belanda dan sedang lihat lihat perkembangan kota magelang via google dan ngga sengaja menemukan pemikiran kakak di blog ini. Semoga saja pemerintah memang ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat magelang. Saya lihat Magelang banyak berubah mulai dari infrastruktur, pembangunan mall dan hotel, bisa menarik investor dari luar negeri bukan hal yang mudah dan Magelang berhasil meraih berbagai prestasi di bidang pemberdayaan perempuan dan anak. Semoga hasil yang dicapai bisa terus berkembang dan masyarakat juga terus mengembangkan diri mensupport magelang bersaing di kancah nasional. Salam.