Kota Surabaya dari Balik Jendela
14 Januari 2012, saya berkesempatan untuk melancong ke Jawa Timur bersama teman-teman kantor. Sewaktu melewati Kota Surabaya, saya jadi ingat program Kota Sejuta Bunga yang dicanangkan oleh Pemkot Magelang akhir tahun lalu. Ya… Kota Surabaya memang menjadi salah satu rujukan atau daerah percontohan pelaksanaan program ini. Setiap daerah tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada juga kesamaan antara daerah satu dengan yang lain. Selanjutnya… biarkanlah foto-foto di bawah ini bercerita kepada Anda sekilas pemandangan di Kota Surabaya…
Sebagai salah satu Kota Besar di Indonesia, kepadatan kendaraan bermotor baik roda 2 maupun roda 4 di Surabaya sepertinya hampir menyaingi Jakarta. Dan hal yang sama adalah kurang disiplinnya pengendara kendaraan (khususnya roda 2) yang seringkali berhenti di zebra cross saat lampu merah. Otomatis kelakuan ini merampas hak para pejalan kaki dan juga membahayakan keselamatan orang lain.
Dan sebagai warga Magelang saya cukup berbangga diri dengan jalur lambat dan jalur cepat yang ada di Kota ini. Di kota Magelang, jalur lambat dan jalur cepat dipisahkan oleh pembatas jalan maupun pohon perindang. Jadi dapat mengurangi terjadinya ‘gesekan’ antara kendaraan bermesin dan non mesin.
Dua stasiun kereta yang unik (bagi saya) karena namanya sama dengan nama daerah di Kota Magelang yaitu Sidotopo dan Kalimas. Oh iya, becak di Surabaya juga modelnya beda lho dengan yang di Magelang. Walaupun sama-sama ‘bermesinkan’ manusia tapi becak van Surabaya lebih terlihat minimalis dan ringan. Berbeda dengan becak di Magelang yang terlihat montok dan didominasi warna merah.
Masjid-masjid di Jawa Timur memang terlihat megah dan yang paling menonjol adalah bentuk kubah atapnya yang besar, menara yang tinggi menjulang serta warna-warni dinding masjid yang sangat variatif. Unik dan juga sangat menarik.
Taman dan taman pembatas jalan di Kota Surabaya tidak jauh berbeda dengan di Kota Magelang. Vegetasi perindang yang ditanam kebanyakan adalah Glodokan Tiang. Namun di beberapa bagian sempat saya temui pohon Mangga dan juga jenis pohon yang lain. Lidah mertua alias sansiviera dan lili paris masih menjadi idola dalam mengisi taman, warna-warni bunga kana juga tak ketinggalan mempercantik suasana taman.

Sepertinya ini dulunya adalah jembatan yang badannya bisa terangkat dan di bawahnya bisa dilalui kapal
nb : semua foto diambil dari balik kaca jendela bus Pemkot Magelang dan diedit seperlunya untuk kenyamanan pembaca


























kampunge emak..kota yang jarang lengang… sip bang…(sav poto)
ternyata masih ada darah Pahlawannya tho dirimu. siippp
wah, makin oke aja nih mas Yudha ngeblognya.. jos gandos..
hanya jeprat jepret sambil duduk aja bisa cerita ke anak cucu *wkwkwk*
oiya mas, itu jembatan yang bisa geser itu namanya SWING BRIDGE. Cara kerjanya menggunakan tali kawat.. diputer satu sisi, jembatan akan ‘terputus’ dan alhasil sungainya bisa dilalui kapal biar nggak nanggrok.. terus selain itu pada jaman perang jembatan ini untuk keamanan waktu malam ditutup, biar nggak diserang gitu.. hehehe.. itu ada pelajarannya waktu saya di Robotik Magelang..
haha… sampeyan lebih oke. Oh… namane swing bridge tho. Keren itu…