Ke Jakarta Aku Kan Kembali

Saya terakhir ke Jakarta sekitar bulan Juli tahun 2011 yang lalu, sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi gelaran rutin Pameran Flona di Lapangan Banteng. Tidak menyangka kalau kemacetan di ibukota semakin menggila. Dan sempat tercetus niatan untuk tidak akan kembali lagi kedalam kesemrawutan Kota Metropolitan ini.
Namun, nampaknya niatan tsb gugur karena adanya perintah untuk mengikuti Diklat Pengelolaan Aset di Jakarta. Kenapa harus di Jakarta dan kenapa harus saya ya? Hehe…
Sebagai pelaksana, saya hanya bisa berkata ‘ya’ dan mengamini perintah tsb. Dan akhirnya saya-pun mempersiapkan diri untuk mengikuti Diklat Pengelolaan Aset Daerah yang dilaksanakan tanggal 2 – 7 Juli 2012 di Hotel Jayakarta. Setelah mendapat kepastian jadwal dan surat perintah sudah di tangan, maka selanjutnya saya-pun menentukan apakah akan menggunakan bis malam ataukah kereta api. Dari pengalaman teman yang sudah pernah ikut Diklat di Hotel Jayakarta, lokasi hotel memang tidak terlalu jauh dari Stasiun Gambir. Namun setelah saya cek, jadwal kereta tiba di Jakarta pukul 17.30-an, sedangkan jadwal check-in mulai pukul 14.00 WIB. Masih keburu sih, tapi berhubung ini pengalaman pertama saya ikut Diklat dan masih blank akan gambaran di sana, saya memutuskan untuk naik bis malam agar tidak perlu ke Jogja, tidak terlalu buru-buru dan bisa sekalian mampir ke tempat adik di Cikarang.
Sebenarnya pengen naik bis Ramayana, karena bis ini yang menjadi langganan ortu dan adik kalo pas ke Cikarang. Tapi berhubung ngepasi liburnya anak sekolah, tiket Ramayana sudah habis dan terpaksa naik Handoyo.
Awalnya saya sempat terkesan dengan armada Handoyo yang tergolong masih baru dengan tulisan Euro III besar di kaca depannya. Masuk ke kabin bis, kondisi masih terasa bersih dan kinclong. Tapi setelah duduk, o… o… jarak seat satu dengan seat lain mepet banget. Masih mending Santoso yang recleaning seat alias ekonomi dengan tiket 80rb. Alhasil, saya terpaksa memangku dan memeluk tas laptop saya sepanjang perjalanan dari Magelang sampai Cikarang
Dari waktu tempuh-pun ternyata Handoyo tidak secepat Santoso. Santoso berhasil menerobos terminal Pulo Gadung maksimal pukul 05.30 sedangkan Handoyo (yang jurusan Pulo Gadung) baru sampai di Cikarang pada pukul 06.30-an.
Setelah beristirahat seperlunya, pukul 10.00 saya menuju ke Jakarta. Dari info yang saya dapatkan sebelumnya, untuk menuju ke Jakarta dari Cikarang bisa menumpang bis Mayasari Bhakti 121 (Cikarang – Blok M). Untuk menuju ke Hotel Jayakarta sebenarnya bisa turun di Blok M kemudian naik Busway Koridor I (Kota). Tetapi atas saran dari adik, saya turun di Polda (Komdak Bawah) kemudian menyeberang melalui jembatan penyeberangan menuju halte busway yang ke arah Kota. Ternyata jembatan penyeberangannya cukup panjang sehingga membuat saya agak ngos-ngosan karena menenteng travel bag yang lumayan berat. (Hitung-hitung latihan angkat beban)
Sejauh ini perjalanan cukup lancar dan aman. Saya turun di Halte Glodok kemudian naik ojek menuju Hotel Jayakarta. Sebenarnya lebih enak dan lebih dekat turun di Halte Olimo, tapi berhubung tidak tahu ya sudahlah tidak apa-apa.
Sampai di Hotel Jayakarta, saya bertanya ke resepsionis kemudian melakukan registrasi ke pihak panitia dari Badan Diklat Kemendagri. Ternyata sudah lumayan banyak yang registrasi dan kebanyakan peserta Diklat berasal dari luar Jawa.
Hotel Jayakarta

Inilah pertamakalinya saya menginap di hotel sekelas Jayakarta. Pengalaman baru yang cukup menyenangkan bagi wong ndeso seperti saya.
Setelah melakukan registrasi dan melunasi pembayaran, oleh panitia saya diberi kwitansi sementara yang selanjutnya dapat ditukar dengan access card di bagian resepsionis. Saya-pun mendapat jatah menginap di kamar 1607 dan untungnya teman sekamar saya belum ada sehingga saya punya waktu untuk mengeksplorasi kamar hotel beserta isinya
Berbarengan dengan musim liburan sekolah dan juga HUT Jakarta, Hotel Jayakarta cukup ramai dan meriah. Ada sepasang ondel-ondel di salah satu sudut lobby dan juga suguhan musik live khas Betawi setiap siangnya.
Menu makanannya sebenarnya cukup beragam dari hari ke hari namun lama-lama bosan juga karena lauk yang disajikan hampir selalu bersantan dan mungkin juga karena rindu masakan rumah J Tapi asyik juga sih, di beberapa malam, makan malam ditempatkan di lantai 6 di dekat kolam renang. Hmmm… menikmati sedapnya makan malam di pinggir kolam renang sambil merasakan angin malam Jakarta dan sajian musik live. Sesuatu banget!
Oh iya, saya sekamar dengan Bang Harison. Beliau adalah Sekretaris DPPKAD Kabupaten Dairi. Walaupun pejabat eselon, tapi alhamdulillahnya tetep enak diajak diskusi dan sharing hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan aset.
Diklat Pengelolaan Aset

Diklat Pengelolaan Aset yang saya ikuti ini diadakan oleh Badan Diklat Kemendagri. Pengajarnya adalah praktisi maupun purna PNS yang dulu pernah ikut serta dalam penyusunan aturan dasar pengelolaan aset yaitu PP No. 6 Tahun 2006 dan juga Permendagri No. 17 Tahun 2007.
Materi yang disampaikan dalam diklat ini antara lain :
- Building Learning Commitment (BLC)
- Kebijakan Manajemen Aset Daerah
- Inventarisasi Aset Daerah
- Pembinaan, Pengendalian, Pengamanan dan Pemeliharaan Aset Daerah
- Penggunaan dan Pemanfaatan Aset Daerah
- Pemindahtanganan dan Penghapusan Aset Daerah
- Penilaian Aset Daerah
- Rekonsiliasi Aset Daerah
- Pelaporan Aset Daerah
Kembali ke Magelang

Tanpa terasa, satu minggu berlalu sudah. Keseharian Diklat yang dimulai pukul 08.00 – 17.00 tidak terlalu menyita waktu sehingga beberapa kali saya menyempatkan diri untuk sekedar menemani teman dari Medan untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Lumayan sih, bisa mampir ke Gajah Mada Plaza, Gramedia Gajah Mada dan juga ke Pekan Raya Jakarta.
Perjalanan pulang ke Magelang saya putuskan menumpang bis Rejeki Baru (New Rejeki) yang pool-nya ada di Kelapa Gading. Pertimbangannya adalah pemesanan tiket bisa dilakukan via telepon, armadanya yang pasti sangat nyaman dan sementara menunggu keberangkatan bis pada pukul 16.00 WIB saya bisa menitipkan tas dan muter-muter sebentar untuk membelikan buku titipin teman di Gramedia Matraman dan buah tangan untuk teman-teman kantor serta keluarga di rumah.
Hmmm… ini tho rasanya diklat di luar daerah. Yang dalam bayangan saya cukup menakutkan, tetapi setelah dijalani ternyata malah cukup menyenangkan dan yang pasti menambah wawasan, kenalan dan pengetahuan. Tapi agak menegangkan juga sih karena ngepasi dengan liburnya anak sekolah, hampir-hampir saya tidak bisa berangkat dan juga tidak bisa pulang




akhirnya keluar daerah juga bang. pengalaman bertambah ini