Artos, A(r)tos atau Arto(s)

artos

Gegap gempita pembangunan dan kemegahan Artos (Armada Town Square) memang sudah terasa sejak awal proses pembangunan dimulai. Melalui backdrop berukuran besar yang dulu dipasang sebagai pagar lokasi pembangunan, masyarakat bisa membayangkan bagaimana bentuk jadi Artos itu. Dan melalui info yang gencar di media cetak, masyarakat Magelang Raya dibuat tambah penasaran  akan kehadiran mall yang menurut informasi merupakan mall pertama dan terbesar se-Magelang Raya ini.

Mall yang baru saja melaksanakan soft opening pada tanggal 07 Oktober 2011 yang lalu ini memang kelihatan sangat mentereng, posisinya yang berada di perbatasan Kota dan Kabupaten Magelang serta terletak di pinggir jalan provinsi yang padat arus kendaraan benar-benar sangat strategis dan menguntungkan. Waktu peluncurannya pun sangat pas dengan selesainya proses pelebaran jalan Keprekan Mertoyudan dan pengerjaan pengeramikan trotoar di ruas jalan tersebut.

Mall Kebanggaan Masyarakat Magelang

Mall yang dibangun di atas lahan seluas 3,2 hektar ini diharapkan dapat menjadi ikon daerah dan mengembalikan kejayaan Magelang sebagai pusat perekonomian. Setidaknya begitulah harapan David Herman Jaya (Liem Wan King) selaku bos Armada Group yang empunya Artos. Mall yang terdiri dari tiga lantai yaitu Lower Ground (LG), Ground Floor (GF) dan Upper Ground (UG) ini dikabarkan menelan dana 300 M dalam proses pembangunannya.

Sampai saat ini kurang lebih sudah ada 53 tenant yang mengisi Artos dan diperkirakan akan semakin bertambah. Tenant yang paling menarik dan bisa dikatakan paling besar adalah Carefour dan Matahari. Dan rencananya tahun depan Bioskop 21 serta hotel bintang empat Grand Artos Hotel akan menambah lengkap tenant di Artos.

Lokasi Artos

artos

Artos terletak di Jalan Mayjen Bambang Sugeng No. 1. Mertoyudan, Kabupaten Magelang bukan di Kota Magelang, selama ini banyak sekali masyarakat yang salah mengira bahwa lokasi Artos ada di Kota Magelang. Dan seringkali mereka menyangkutpautkan kebijakan Pemerintah yang mengijinkan pembangunan Artos padahal Pasar Rejowinangun belum juga dibangun.

Cerita Seputar Artos

Di grup facebook banyak sekali obrolan-obrolan yang membicarakan seputar latar belakang kelahiran Artos. Ya, kita ketahui bersama bahwa memang Artos itu milik Wan King, bos perusahaan karoseri terbesar se-Asia Tenggara. Konon katanya, Artos merupakan ungkapan atau perwujudan rasa kecewa Wan King yang kalah tender pembangunan Pasar Rejowinangun. Sebagai orang asli Magelang, dia merasa ikut terpanggil untuk membangun kembali Pasar Rejowinangun yang terbakar pada 26 Juni 2008, dengan harga penawaran yang wajar nyatanya dia tidak berhasil memenangkan tender. Dia menilai ada sesuatu hal tidak beres dalam proses tender tsb. Dan secara pembangunan, Artos juga terkesan agak dipaksakan karena target soft opening awal pada bulan Agustus tidak tercapai dan baru tercapai pada 07 Oktober 2011 yang lalu, selain itu Armada juga sudah lebih dahulu memiliki Armada Syawalan yang mau tidak mau pasti akan menjadi sepi dengan berdirinya Artos.

Dampak Artos terhadap lingkungan sekitarnya

artos

Jalan Sarwo Edhie Wibowo merupakan jalan yang tidak terlalu lebar, ditambah lagi banyaknya angkutan jalur 2 yang berhenti seenaknya di pinggir jalan sehingga menambah kemacetan lalu lintas menjelang traffic light yang merahnya lama dan hijaunya sebentar. Jalan yang biasanya agak tersendat menjadi tambah macet pada saat soft opening Artos pada 07 Oktober lalu, padahal waktu baru menunjukkan pukul 11.00. Ditambah lagi penempatan parkir on street untuk kendaraan roda dua dan belum adanya pembatas jalan membuat lalu lintas menjadi semrawut.

Secara penyediaan lahan parkir, mungkin Artos bisa dikatakan sudah cukup bagus dan cukup siap. Ada parkir di basement yang sepertinya khusus roda empat dan lahan parkir yang cukup luas di sebelah gedung yang mampu menampung kendaraan para pengunjung. Namun masih ada beberapa permasalahan yang masih harus dicari solusinya, di antaranya :

  • Belum adanya jembatan penyeberangan.
    Beberapa pihak dari pengunjung mengeluhkan susahnya menyeberang di Artos karena memang jalan yang ramai kendaraan dan kadangkala tidak ada pihak Artos yang membantu mengatur lalu lintas dan menyeberangkan pengunjung.
  • Kemacetan.
    Lokasi Artos yang berada di dekat persimpangan jalan, mau tidak mau akan menimbulkan dampak kemacetan yang diantaranya disebabkan oleh angkutan yang berhenti dan menunggu penumpang di sekitar Artos, kendaraan pengunjung yang akan menyeberang dan berbelok ke Artos serta pengaturan masuk keluarnya kendaraan yang belum begitu baik.
    Bahkan setiap malam minggu atau hari libur, antrian kendaraan di lampu merah depan Armada panjangnya bisa mencapai Kampus II UMM.

Dengan adanya Artos, tentunya ada peluang pekerjaan bagi teman-teman di Magelang. Wan King sendiri menetapkan batasan minimal untuk warga Magelang adalah 75%. Namun angka 75% ini masih harus kita hitung lagi karena belum tentu tenant yang ada juga memberlakukan batasan yang sama.

Semenjak berdirinya Artos, memang suasana di Kota Magelang menjadi sedikit berbeda. Apabila masuk dari arah selatan, kita akan disambut dengan sedikit kemacetan di seputar Artos. Dan di dalam kota sendiri, tempat parkir beberapa syawalan nampak agak lenggang. Misalnya Giant ataupun Trio Plaza yang biasanya parkirnya penuh dan membuat macet jalan sekarang menjadi lebih lega dan arus kendaraan lebih lancar.

Keberhasilan suatu daerah memang tidak ditentukan ada tidaknya mall di daerah tsb namun dengan adanya Artos paling tidak akan ada warna yang baru di Magelang seperti yang disimbolkan dalam logo Artos yang ceria penuh warna.

Related Posts :

6 Responses to “Artos, A(r)tos atau Arto(s)”

Leave a Reply

CommentLuv Enabled