Berbicara di depan umum itu mudah, tetapi berbicara di depan umum dengan gaya yang menarik dan menyenangkan serta dapat dipahami tentu membutuhkan tips dan trik tertentu. Sekedar berbicara, semua orang bisa. Tetapi menjadi pembicara handal, tentu ada seninya. The Art of Public Speaking. Hal inilah yang dikupas secara mendalam oleh Akademi Berbagi Magelang (Akber) dalam kelas ke-8 kali ini. Hadir sebagai narasumber yaitu Dias Senja Juniko yang tak lain adalah Kepala Sekolah Akademi Berbagi Magelang.

Mbak Dias ternyata selama ini sudah malang melintang di dunia public speaking. Baik sebagai penyiar radio (GKL, Retjo Buntung dan radio swasta lain), presenter RBTV dan mc atau pembawa acara (mulai dari acara di kampus sampai dengan hotel berbintang). Dengan pengalaman yang didapatkan selama ini, mbak Dias mencoba untuk berbagi tips dan trik untuk menjadi public speaker yang baik.

Pidato, penyampaian materi atau nge-mc diibaratkan seperti burger yang terdiri dari 3 lapisan. Lapisan pertama (paling atas) adalah opening (pembuka), lapisan tengah adalah isi dan lapisan terakhir adalah closing (penutup). Opening merupakan kesempatan bagi public speaker untuk memperkenalkan diri dan menyapa penonton. Bagian isi adalah cara kita menyampaikan materi secara menyenangkan diselingi dengan joke atau pemberian reward kepada audience, dll. Materi yang disampaikan tentunya tidak lepas dari 5W dan 1H. Closing merupakan sesi terakhir bagi kita untuk mengakhiri acara. Namun, satu tips yang tidak boleh kita lupakan saat closing adalah ajak audience untuk selalu keep contact dengan kita, misalnya dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertanya atau diskusi lebih lanjut di luar acara, memberikan kontak kita kepada audience, dll.

Bagaimana menjadi public speaker yang baik? Practise. Praktek. Berlatih. Berbicaralah di depan cermin. Lihatlah ekspresi kita di sana. Sudah cukup pas, kurang ramah dan kurang senyum, atau malah over alias lebay? Bagi pemula, siapkanlah skrip. Tuliskan apa yang ingin kita sampaikan ke audience. Sedetail mungkin sampai dengan hehehe atau wekaweka (wkwk).

Jangan lupakan mood. Seorang public speaker musti profesional. Bibir harus tetap tersenyum walaupun hati menangis. Kembalikanlah good mood Anda secepat mungkin. Lakukan hobi simpel Anda untuk mengembalikan suasana good mood. Curhat juga dapat menjadi cara yang efektif.

Public Speaking. You Listen I Speak. Yah, di saat pembicara berbicara, sudah selayaknya audience diam. Mendengarkan, memperhatikan. Di saat pembicara mengeluarkan guyonan yang lucu, tertawalah kalau memang lucu. Tapi jangan berlebihan. Jangan pula bersikap dingin dan apatis terhadap pertanyaan yang diajukan oleh pembicara. Karena, suatu saat nanti kita pasti akan dituntut untuk berada di depan (entah di panggung atau bukan. Acara formal atau non formal) untuk menyampaikan pengalaman, ide dan gagasan yang kita miliki kepada orang lain. Di saat itu terjadi, kita baru akan bisa merasakan situasi yang krik…krik atau istilah kerennya awkward moment.

Terakhir. Yang utama malahan. Kuatkanlah hati Anda. Bersiaplah untuk menerima segala kemungkinan yang terjadi karena memang mengendalikan orang banyak tidak mudah. Kecuali Anda punya kuasa penuh terhadap audience. Karena Anda pasti tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan, berdoalah. Ya, jangan lupa berdoa sebelum mengawali aktivitas public speaking.

Closing. Jangan berkata demikianlah. Hindari mengatakan sampai di sini #lirik mbak Dias. Baik, itu tadi materi yang telah saya sampaikan. Apabila ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut, karena keterbatasan waktu, Anda dapat menuangkannya di kolom komentar. Saya Yudha Karyadi undur diri dari hadapan Anda, dan… terima kasih… J

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation