Sebagian dari kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah biopori, atau yang lebih lengkapnya biasa disebut dengan lubang resapan biopori (lrb). Saya-pun pernah mencoba menuliskan seluk beluk lrb di sini. Ya… biopori memang sudah lama ditemukan, tapi baru di bulan Maret 2013 ini saya bisa mengaplikasikannya secara langsung di halaman rumah.

Berawal dari acara muter-muter yang berkaitan dengan proses pengecekan penghapusan barang di tahun 2012 yang lalu, saya melihat di beberapa kelurahan ada keranjang takakura dan bor biopori yang masih disimpan di dalam gudang. Berbekal ‘temuan’ tsb, saya-pun mencari tahu apakah di kelurahan tempat ibu saya bekerja ada bor biopori yang bisa dipinjam. Dan… akhirnya… saya dapat pinjaman satu buah bor biopori untuk membuat lrb tsb di rumah.

Kalau diingat-ingat lagi, saya mulai mengenal atau menemukan info mengenai biopori pada bulan Januari tahun 2010 dan semenjak itu senantiasa mencari tahu, browsing mengenai pengaplikasian biopori dan juga mencari harga bor biopori yang paling murah. Hehe…

Setelah senjata bor biopori di tangan, saatnya kita memulai peperangan percobaan ini. Langkah yang saya lakukan adalah sebagai berikut :

  • Pertama, tentukan di mana kita akan mulai membuat lubang resapan biopori. Pastikan bahwa di lokasi tsb tidak ada instalasi kabel, pipa ataupun pondasi yang dapat menjadi korban. Kalau saya, lebih cenderung memilih bagian yang tidak menjadi tempat genangan air, karena nantinya lubang biopori ini akan diisi sampah organik. Dalam bayangan saya, lubang biopori yang sudah berisi sampah organik dan tidak bertutup ini, apabila tergenangi air maka akan membuat sampah organik mengambang dan menyebar keluar dari lubang.
  • Kedua, kenali kondisi tanah. Di saat musim hujan seperti saat ini, sangat mudah menggali lubang biopori karena tanah berair dan lebih gembur. Nah, saat musim kering ada baiknya untuk menyirami tanah terlebih dahulu agar memperlunak dan mempermudah proses pengeboran.
  • Ketiga, persiapkan kondisi fisik Anda. Sepertinya mudah dan cepat untuk membuat lrb, tapi sebenarnya memang mudah dan cepat kok. Hanya saja memang butuh latihan dan penyesuaian. Untuk pertama kalinya, mungkin kita akan merasa capek, ngos-ngosan dan kesulitan. Tapi setelah satu lubang selesai, selanjutnya malah akan ketagihan untuk membuat lubang yang lain. Tidak perlu repot memikirkan bagaimana cara mengangkat tanah dari lubang yang kita buat karena secara otomatis tanah akan ‘bersarang’ di bagian tengah bor biopori. Tinggal kita angkat, bersihkan dan gunakan kembali.
  • Keempat, isi lubang dengan sampah organik. Setelah lrb selesai digali dan disempurnakan, selanjutnya kita isi dengan sampah organik (sampah yang bisa terurai – non plastik). Untuk lrb yang saya buat, saya mengisinya dengan serbuk gergaji bekas alas landak mini yang saya pelihara.
  • Kelima, tutup lubang. Sebenarnya langkah ini tidak mutlak dilakukan. Lrb bisa dibiarkan terbuka ataupun tertutup. Untuk penutupnya, bisa menggunakan penutup lubang air di toilet, kawat ram ataupun looster.

Nah, sekarang kita sudah memiliki lrb di halaman rumah. Ada baiknya lrb tersebut kita cek secara periodik. Apabila isinya menyusut, dapat kita tambahkan lagi dengan sampah organik. Dan saat sampah organik tsb sudah terurai dan menjadi kompos, kita dapat memanennya menggunakan bor biopori. Kompos yang sudah kita panen, dapat diangin-anginkan untuk kemudian digunakan pada tanaman yang kita pelihara. Atau jika dalam jumlah yang banyak, bisa kita jual untuk menambah pendapatan keluarga :)

® Magelang, 21 Maret 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation