stasiun kebonpolo magelang

Spoor atau kereta api merupakan sarana transportasi massal yang hingga detik ini masih menjadi idola bagi sebagian masyarakat. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Jogjakarta dan kota besar lainnya kita masih bisa dengan mudahnya menyaksikan rangkaian gerbong besi yang berjalan anggun di atas relnya. Namun berbeda halnya dengan di kota kita tercinta, Magelang, nasib si roda besi ini sudah lama berakhir. Saat ini kita hanya bisa menyaksikan bekas rel baja yang masih bersemayam di beberapa sudut kota maupun bangunan bekas gudang stasiun yang kondisinya cukup memprihatinkan.

Kota Toea Magelang (Komunitas Pecinta dan Pelestari Bangunan Toea di Magelang) merupakan komunitas yang peduli dengan sejarah perkereta apian di Magelang dan sekitarnya. Tak ingin sejarah ini hilang seiring semakin terhapuskannya jejak-jejak spoor oleh perkembangan jaman, maka komunitas ini berinisiatif untuk mengadakan acara Djeladjah Djaloer Spoor (DDS) pada 22 Januari 2012. Jelajah yang mengambil rute Magelang – Secang – Temanggung – Parakan ini bertujuan untuk napak tilas sejarah perkereta apian di Magelang dan sekitarnya. Bagaimanapun, sejarah tidak boleh dibiarkan lekang oleh jaman karena dengan sejarahlah, manusia bisa lebih bijak menatap masa depan.

Sekilas Sejarah Perkereta apian di Magelang dan sekitarnya

Sejarah perkereta apian di Magelang dimulai dengan dioperasikannya jalur KA Jogjakarta – Magelang pada tanggal 1 Juli 1898 oleh NISM (Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatschappij). Di tahun-tahun berikutnya, pembangunan jalur kereta api semakin gencar dilakukan untuk menghubungkan Magelang dengan kota-kota sekitarnya. Misalnya jalur Magelang-Secang yang beroperasi pada tanggal 15 Mei 1903, jalur Secang-Temanggung beroperasi 3 Januari 1907, jalur Secang-Ambarawa beroperasi 1 Februari 1905 dan jalur Temanggung-Parakan beroperasi 1 Juli 1907.

Pembangunan jalur-jalur ini tidak terlepas dari jasa Ho Tjong An. Ho Tjong An merupakan kontraktor pembangunan rel kereta api yang lahir di Tungkwan, Canton, Cina pada tahun 1841. Dalam proses pembangunan jalur-jalur ini, Ho Tjong An sangat menghargai kepercayaan masyarakat pribumi terhadap pohon, batu, makam dan kawasan lain yang dianggap keramat. Sehingga beberapa jalur kereta di Payaman-Secang dan Secang-Temanggung yang seharusnya memiliki trek lurus nampak berkelok-kelok.

Djeladjah Djaloer Spoor

Pada event Djelajah Djaloer Spoor (DDS) kali ini KTM sengaja memilih jalur kereta api bagian Utara yaitu Magelang – Secang – Temanggung – Parakan. Hal ini semata-mata karena pertimbangan waktu dan juga jarak. Mungkin di jelajah selanjutnya, giliran jalur Selatan yang akan mendapatkan bagian.

>> Stasiun Magelang Kota <<

Titik pemberangkatan sekaligus lokasi awal napak tilas sejarah adalah di stasiun Magelang Kota atau yang sekarang lebih dikenal dengan Sub Terminal Kebon Polo. Di stasiun yang pernah menjadi stasiun utama pada masanya itu, peserta jelajah mendapatkan penjelasan seputar komunitas dan juga sejarah perkereta apian dari mas Bagus Priyana (Koordinator Kota Toea Magelang sekaligus Penanggung Jawab acara ini) dan mas Tommy Aditya (Rail Fans dari Bandung).

Jejak sejarah spoor di stasiun Magelang Kota ini nampak semakin hilang semenjak gerbong tua yang dulu bertengger di stasiun tersebut dievakuasi ke Museum Kereta Ambarawa pada November 2011 yang lalu. Sedangkan satu-satunya bangunan yang masih tersisa adalah bangunan bekas gudang yang masih berdiri dengan kokoh walaupun kurang terawat dan sekarang sudah tidak difungsikan lagi.

>> Stasiun Secang <<

eks stasiun secang

Tujuan berikutnya adalah stasiun Secang. Untuk menuju stasiun Secang cukup mudah, ikuti saja jalan raya Magelang – Semarang dan apabila menemui Gudang Beras Bulog di kiri jalan maka lokasi stasiun ini tidak jauh dari tempat tersebut. Stasiun paling strategis di seputar Magelang dan Temanggung ini sekarang letaknya agak tersembunyi karena berada di belakang Kantor Koramil Secang.

eks stasiun secang

Berdasarkan papan nama yang ada di lokasi, stasiun Secang saat ini digunakan sebagai Gedung Purna Bakti Kecamatan Secang sedangkan bekas ruang loket penjualan tiket digunakan untuk kantor Pepabri serta Legiun Veteran RI Kecamatan Secang. Meskipun demikian, bangunan bekas stasiun ini nampak tidak terawat. Sebagian rangka atap dan daun pintunya sudah lapuk, beberapa jendela ditutupi dengan papan kayu, di beberapa sudut lantai stasiun juga nampak ditumbuhi rerumputan. Hal ini semakin diperparah dengan digunakannya emperan stasiun sebagai tempat parkir untuk truk gandeng yang berukuran cukup besar.

eks stasiun secang magelang

Di bekas stasiun ini, selain dijumpai bangunan bekas stasiun juga dijumpai gudang stasiun dan deretan rel yang terbagi dalam 3 jalur. Seperti kebanyakan tanah-tanah PT. KAI yang lainnya, di bantaran rel stasiun Secang ini sudah banyak didirikan rumah-rumah permanen. Bahkan sempat terjadi kesalahpahaman saat tim DDS menjelajahi kawasan ini. Beberapa pihak khawatir dan mengira kedatangan tim DDS ini dalam rangka menghidupkan kembali jalur spoor dan akan menggusur rumah-rumah mereka. Kekhawatiran yang beralasan, karena mereka jelas-jelas menempati tanah dan bangunan yang bukan miliknya.

>> Stasiun Kranggan <<

Bertolak dari stasiun Secang, tim DDS melanjutkan perjalanan menuju stasiun Kranggan. Stasiun Kranggan saat ini lokasinya berada di tengah-tengah perkampungan yang bisa dikatakan sudah cukup padat dengan rumah-rumah permanen. Lokasi stasiun ini tidak jauh dari pasar Kranggan dan juga jembatan kali Progo yang menghubungkan dengan Temanggung.

rel kereta api kranggan

Berdasarkan info awal dari mas Bagus Priyana, stasiun Kranggan ini merupakan salah satu stasiun yang sampai saat ini kondisinya masih terpelihara dengan baik. Stasiun Kranggan saat ini juga menjadi tempat tinggal pak Karim dan keluarga. Beliau adalah mantan pegawai PT. KAI pada tahun 1940 – 1980.

eks stasiun kranggan

Di bekas stasiun Kranggan ini tim DDS mendengarkan beberapa kisah yang disampaikan oleh pak Karim. Di antaranya adalah tergulingnya gerbong kereta api yang terjadi pada tahun 1947 di mana pak Karim menjadi saksi hidup sekaligus terjun langsung menyelamatkan korban kecelakaan dan juga kisah pak Karim saat menemukan ranjau di rel ketika bertugas sebagai Kepala Pengawal Lori. Stasiun Kranggan ternyata sudah berpindah lokasi sebanyak 3 kali. Salah satu penyebab kepindahan ini adalah tragedi kecelakaan yang juga mengakibatkan rusaknya bangunan stasiun Kranggan.

Pak Karim merupakan sosok saksi sejarah yang membuat tim DDS angkat topi. Walaupun sudah sepuh (88 tahun) namun ingatannya masih kuat. Beliau tidak bisa berbahasa Indonesia dan juga menulis latin. Tapi siapa sangka beliau sangat fasih menyebutkan istilah-istilah spoor dalam bahasa Belanda dan menuliskannya dalam aksara jawa.

jembatan spoor kali progo

Tak jauh dari stasiun Kranggan terdapat jembatan KA Kali Progo yang menghubungkan Kranggan dengan Temanggung. Jembatan ini masih berdiri tegak walaupun rel dan kerangka jembatan sudah berlapis karat. Kayu bantalan rel-pun sudah terlihat sangat tua dan terlihat ditumbuhi jamur. Di dekat jembatan ini tim DDS juga mengamati dan membaca cetakan tulisan yang terdapat di rel seperti ‘KRUPP.1901.N.I.S.28’ dan ‘KRUPP.1903.N.I.S.28’.

Photobucket

>> Plengkung KA Campur Sari Bulu <<

Perjalanan ‘touring’ dilanjutkan menuju Plengkung KA Campur Sari di Bulu. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit dengan kecepatan 30-45km/jam ini, tim DDS sangat dimanjakan dengan pemandangan alam berupa hijaunya persawahan dan kokohnya Gunung Sumbing di kejauhan.

Photobucket

Plengkung, ternyata tidak hanya terdapat di Kota Magelang. Di Bulu-pun terdapat bangunan jembatan, yang walaupun tidak mlengkung, oleh warga sekitar sering disebut Plengkung. Plengkung Campur Sari ini dulunya merupakan jembatan untuk kereta api dan di bawah jembatan ini bisa dilalui oleh orang maupun kendaraan.

Dari keterangan mas Bagus Priyana, dulunya ketinggian rel di kanan dan kiri jembatan sama dengan ketinggian jembatan. Namun sekarang, berdasarkan pengamatan di lokasi di kanan kiri jembatan ketinggian tanah sudah rata dengan tanah di bawah jembatan. Di sekitar lokasi, tim DDS menjumpai sebatang rel yang sudah dimodifikasi menjadi tiang lampu penerangan jalan.

Photobucket

Plengkung Campur Sari ini memang sudah mengalami renovasi sehingga wujud rel di jembatan sudah tidak nampak lagi. Kondisinya masih cukup bagus hanya kurang perawatan saja karena di beberapa bagian plengkung ditumbuhi lumut dan juga pakis. Selain itu coretan-coretan tangan jahil juga menambah kesan tidak terawat pada plengkung. Plengkung ini biasanya dimanfaatkan sebagai jembatan penyeberangan oleh warga sekitar maupun anak-anak sekolah.

>> Stasiun Parakan <<

Lokasi jelajah selanjutnya adalah stasiun Parakan. Stasiun Parakan merupakan stasiun awal dan akhir bagi kereta api jalur Temanggung-Parakan. Pada masanya, stasiun ini memiliki peran penting dalam pengangkutan tembakau dan hasil bumi lainnya.

Photobucket

Stasiun Parakan terlihat cukup catchy karena dicat dengan warna pink alias merah muda. Bentuk bangunannya pun sangat istimewa apabila dibandingkan stasiun-stasiun yang dikunjungi oleh tim DDS sebelumnya. Di bagian depan sebelah kiri nampak ada bangunan tambahan untuk menambah luasan ruang bekas stasiun yang saat ini digunakan sebagai Pos Pelayanan Properti PT. KAI di Parakan.

Photobucket

Selain design atau bentuk bangunannya, yang membuat stasiun ini berbeda adalah papan nomor asset yang sudah dipasang di depan stasiun oleh PT. KAI. Secara keseluruhan sebenarnya stasiun ini dapat dikategorikan lumayan terawat. Yang menyedihkan adalah adanya bak sampah di sebelah kanan stasiun yang tidak tertutup rapat sehingga sebagian sampah berserakan di depan stasiun dan juga menimbulkan bau yang kurang sedap.

Di stasiun Parakan ini juga dijumpai bekas toilet stasiun yang lokasinya terpisah dengan bangunan stasiun. Toilet yang terdiri dari dua kamar ini sekarang dimanfaatkan oleh pemilik warung sebagai toilet warung tsb.

>> Stasiun Kedu <<

Photobucket

Stasiun Kedu terlihat lebih bersih dan cukup terawat. Stasiun yang terletak di pinggir jalan raya dan persawahan ini sekarang digunakan sebagai Kantor Pepabri Kedu. Tak banyak yang bisa digali oleh tim DDS di stasiun ini. Selain bentuk stasiun yang kemungkinan sudah diubah lebih ‘modern’, bekas rel yang sudah diubah menjadi pagar pembatas, tim DDS juga hanya menjumpai alat pemberi sinyal yang terletak di bagian tengah stasiun.

Photobucket

>> Stasiun Temanggung <<

Photobucket

Stasiun yang memiliki design sama dengan stasiun Parakan ini merupakan stasiun yang kondisinya paling sejahtera dibandingkan stasiun yang lain. Stasiun Temanggung atau yang sekarang disebut dengan Gedung Juang 45 ini sekarang digunakan untuk kantor salah satu instansi pemerintah di Kabupaten Temanggung. Terdapat penambahan bangunan di sebelah kanan stasiun yang dibangun menempel stasiun dan bentuk bangunannya menyesuaikan bangunan stasiun sehingga tidak terlalu mencolok dan mengesankan bahwa bangunan tsb adalah bangunan baru.

>> Stasiun Payaman <<

Stasiun Payaman terletak tidak jauh dari pasar Payaman. Bentuk bangunan yang biasa dan juga papan nama stasiun yang telah dicat putih menyamarkan bangunan eks stasiun ini. Jika diperhatikan dengan seksama, mungkin malah akan dikira sebagai rumah tua biasa.

Photobucket

Stasiun ini sepertinya dimanfaatkan oleh warga untuk parkir kendaraan karena di sebelah bangunan stasiun yang tadinya terbuka kini sudah ditembok rapat dengan batu bata. Jejak spoor di sekitar stasiun masih bisa ditemui dengan adanya rel yang masih tersisa di sana dan juga palang besi yang konon digunakan untuk parkir spoor.

Photobucket

Djeladjah yang dimulai pukul 07.45 WIB ini resmi berakhir pada pukul 15.00 WIB. Dengan peserta sekitar 20-30 orang, acara Djeladjah Djaloer Spoor ini sukses digelar walaupun beberapa peserta harus terpisah karena kebanan di perjalanan. Sukses untuk KTM dan semoga selanjutnya disusul dengan event-event penggalian sejarah lainnya yang tak kalah seru dan menarik.

15 Thoughts on “Napak Tilas Jejak Spoor di Magelang dan Sekitarnya

  1. aset luar biasa yang sungguh teramat sayang tidak diberdayakan…..

  2. wah seru ya mas :)

  3. Kalau tanah di dekat rel sudah dibangun rumah berarti nanti pas “penggusuran” karena mau dibangun rel lagi ada moral hazard dong mas.

  4. Reportase yang lengkip (sangat lengkap)…

  5. mas, dari kemaren aku koman koment kog nggak bisa ya?
    itu kecelakaan tahun 74 apa 47 hayo??

  6. Seingat saya tahun 47 mas.. :)

  7. Triady on 15 July 2012 at 02:42 said:

    salam Kenal buat admin nya …. sy RailFan .ni sedikit cerita pd Juni 2012 lalu lagi main ke rumah teman di Temanggung .. jalan dari Jogja – Magelang – TMG .. ketika dalam perjalanan yang saya perhatikan adalah Kabel yang sangat khas banget .. dan itu gak salah klo kabel dan tiang yang masih terurai kabel panjang dan di bawah nya adalah pasti REL kereta . saya hanya bayangkan jika seandai nya jalur rel itu masih ada,mungkin saya ke Temanggung naik kereta saja..saya lihat di beberapa jalan ada bekas rel yang udah terpendam , bebrapa masih nampak ..ingin rasa nya bisa menghidupkan kembali jalur itu.. klo ada mesin waktu ..ingin rasanya kembali melihat jalur jalur rel itu di lewati lokomotif kuno ..ingin rasanya bisa ikut jelajah2 bersama komunitas pecinta Spoor.. ketika di TMG sempat minta ke Teman untuk antarkan ke sebuah Jembatan REL yang udah Off .. sempat foto2 di sana . masih penasaran muter2 di sekitar jembatan itu mencari Tanggal kapan didirikannya Jembatan itu ..karena dah kesorean mulai gelap .. memutuskan untuk pulang .. dari jauh rasa berat hati untuk meningalkan saksi sejarah itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation