rokok

Setelah ditetapkannya Peraturan Gubernur DKI No. 75 Tahun 2005 Tentang Kawasan Dilarang Merokok, ada beberapa tempat atau kawasan yang ‘diharamkan’ untuk merokok seperti tempat umum (terminal, bandara, pusat perbelanjaan), tempat kerja, tempat proses belajar mengajar (sekolah, universitas), tempat pelayanan kesehatan (rumah sakit, rumah bersalin), arena kegiatan anak-anak, tempat ibadah, dan angkutan umum.

Konsekuensi dari penetapan PerGub tersebut adalah tiap-tiap tempat harus menyediakan tempat khusus atau kawasan merokok yang memenuhi persyaratan sebagai berikut

  • tempat terpisah secara fisik atau tidak tercampur dengan kawasan dilarang merokok;
  • dilengkapi alat penghisap udara atau memiliki sistem sirkulasi udara;
  • dilengkapi asbak atau tempat pembuangan puntung rokok;
  • dapat dilengkapi dengan data dan informasi bahaya merokok bagi kesehatan.

Memang bukanlah hal yang mudah dan murah untuk membangun tempat khusus merokok karena fasilitas yang menyertainya-pun cukup banyak. Namun hal yang sebenarnya lebih prinsipil adalah bagaimana mengedukasi perokok agar mau memanfaatkan tempat khusus merokok tsb karena biasanya tempat khusus merokok letaknya di pojok ruangan sehingga karena alasan malas para perokok seringkali merokok di Kawasan Dilarang Merokok. Pemerintah dalam hal ini Pemprov DKI Jakarta-pun tidak tinggal diam, penyuluhan dan sosialisasi KDM (Kawasan Dilarang Merokok) terus dilakukan dan ditindaklanjuti dengan pembentukan satgas yang berfungsi untuk menindak para pelanggar peraturan di lapangan secara langsung.

Selama ini masyarakat Kota Jakarta selalu berpendapat sama, yaitu peraturan ini hanya ‘hangat-hangat ta** ayam’ dan setelah itu masyarakat akan lupa dan kembali kepada kebiasaan masa lalu sebelum PerGub ini ditetapkan. Namun di balik pendapat tsb Pemprov DKI melalui BPLHD senantiasa melakukan kajian dan penelitian efektivitas KDM dan kaitannya dengan kesehatan para perokok pasif serta pencemaran lingkungan dan hasilnya adalah ternyata ruang khusus merokok tidak efektif untuk ‘mengurung’ racun yang dikeluarkan oleh para perokok dan mengurangi jumlah perokok aktif. Akhirnya, ditetapkanlah Peraturan Gubernur Nomor 88 Tahun 2010 yang dengan tegas ‘mengusir’ para perokok ke luar gedung dan tidak memberikan mereka tempat untuk merokok di dalam gedung.

Dengan ditetapkannya Pergub ini tentu saja gedung (baik milik Pemerintah maupun Swasta) yang tadinya memiliki ruang khusus merokok diwajibkan untuk membongkar ruangan tersebut dan mewajibkan para perokok untuk merokok di luar gedung. Peraturan ini sudah jelas sehingga bagi pengelola gedung yang ‘bandel’ akan dikenakan sanksi yang tegas.

Para perokok sebenarnya sudah menyadari betul bahaya merokok baik bagi kesehatan dirinya maupun kesehatan orang lain tetapi dengan alasan ‘kecanduan’ seringkali hal ini menjadi alasan pembenaran bagi perokok untuk tetap merokok. Analogi sederhana untuk perokok dan PerGub 88 tahun 2010 adalah seperti orang kentut, orang yang kentut di dalam suatu ruangan maka wajib hukumnya untuk keluar ruangan karena gas yang dikeluarkan bisa merugikan orang lain. Dan ingatkah wahai Anda para perokok, sebenarnya Anda telah merampas hak orang lain untuk mendapatkan udara yang bersih dan sehat tanpa asap rokok. Merampas hak orang lain sama saja dengan berbuat dzalim dan doa orang yang di-dzalimi itu dikabulkan oleh Allah. Jadi…berhentilah merokok atau paling tidak menyingkirlah saat merokok agar Anda tidak didoakan doa yang kurang baik :)

6 Thoughts on “Menyikapi Peraturan Gubernur DKI No. 88 Tahun 2010

  1. sangaarrrr…
    .-= ciwir´s last blog ..Kayana Putri Az-Zahirul Haq =-.

  2. damy on 29 October 2010 at 07:57 said:

    Salam Kenal,

    Sama pergub-nya saya setuju, walaupun bukan kebijakan yang paling dibutuhkan saat ini. Kalo “Bang Kumis” bilang jakarta banjir karena masyarakat buang sampah sembarangan, maka harusnya dibuatlah kebijakan untuk masalah tersebut, Kalo kemacetan dikarenakan banyaknya kendaraan dan tidak bertambahnya Jalan, seharusnya juga dibuat kebiajakan tersebut.

    Masalah sosial di Jakarta begitu banyak diantaranya:
    Banjir
    Macet
    Rokok
    Pelacuran
    Kriminalitas
    dll.

    yang mana yang lebih prioritas…?, apakah asap kendaraan bermotor tidak lebih berbahaya dari asap rokok….?

    Soal Dzalim,menurut saya tolong anda perbaiki redaksi tentang “dzalim” diatas. Karena analisa anda terhadap hal tersebut tidak memadai, dan itu tidak baik buat anda.

    • Ohm Rayden on 27 July 2011 at 23:28 said:

      Setuju banget bro….
      Perokok aktif sama Perokok pasif jadi imbang…
      Efeknya 1:1 (mengganggu kesehatan)…

      Bagaimana dengan asap kendaraan bermotor ???
      Efeknya 0:1 (mengganggu kesehatan)….
      Polusi dari asap kendaraan bermotor “menyerang” kesehatan orang yang dilaluinya sedangkan “supirnya” menghirup udaranya ga ???…

      Kata Dzhalim, apakah agama lain memakainya ??..
      Indonesia kan bukan negara Islam…

      • admin on 28 July 2011 at 21:48 said:

        terimakasih atas pendapatnya, dzalim sama artinya dengan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, berbuat sewenang2. Jadi kalo merokok tidak pada tempatnya bisa kita simpulkan juga kan? :D

  3. widi on 1 November 2010 at 03:09 said:

    Setuju, Insya Allah Perda nya akan segera keluar agar sanksi kepada para pelanggar menjadi lebih bergigi baik berupa denda maupun kurungan ( Penjara ). Mari berdoa dan bekerja untuk Jakarta yang lebih baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation